Penghasilan sebagai Objek dan Bukan Objek Pajak

Untuk tujuan akuntansi transaksi penghasilan dapat memberikan penghasilan. Demikian juga, untuk tujuan pengenaan pajak penghasilan, tidak semua tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak merupakan objek pajak. Bahkan tidak semua produk dari transaksi penghasilan itu merupakan objek pajak.

Pengertian penghasilan menganut konsep basis yang luas. Untuk memperjelas pengertian itu, undang-undang memberikan contoh-contoh kategori penghasilan sebagai berikut:

  1. Gaji, upah, tunjungan, honorarium,dll
  2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan
  3. Laba usaha
  4. Keuntungan penjual atau pengalihan harta.
  5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang di bebankan sebagai biaya.
  6. Bunga, deviden, royalty, dan sewa dari harta.
  7. Penerimaan atau perolehan pembayaran harta
  8. Keuntungan karena pembebasan utang
  9. Selesih lebih karna penilaian kembali aktiva.

Keuntungan Pelepasan Aktiva Tetap

Dalam pasal 11UU no.7 tahun 1983 menyatakan hanya penarikan atau pelepasan aktiva tetap golongan bangunan dan penarikan luar biasa yang dapat menghasilkan keuntungan atau kerugian yang di perhitungkan pada tahun penarikan.

Namun menurut UU No.10 tahun1994 perlakuan berbeda demikian tidak ada lagi. Hampir sama dengan perlakuan akuntansi, semua penarikan atau pelepasan harta akan mendatangkan keutungan atau kerugian. Perhitungan keuntungan juga di terapkan pada trnsaksi tukar menukar harta walaupun tidak terjadi pembayaran. Begitu juga dengan pertukaran harta walaupun hartanya sama atau sejenis masih dalam satu kelompok.

Harta yang di hibahkan, diberikan atau di bantukan kepada badan keagamaan, pendidikan, social dan pengusaha kecil termasuk koperasi akan dihitung keuntungan bagi pelepas dan penghasilan bagi penerima.

Dalam keputusan menteri keuangan No.604/KMK.04/1994 tanggal 31 desember 1994 diatur tentang badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial, dan pengusaha kecil.