Pengakuan Dan Pengukuran Penghasilan

Sesuai dengan aspek stabilitas dan kontinuitas anggaran, pajak penghasilan dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam tahun pajak. Untuk dapat mengenakan pajak atas penghasilan tahunan, dua hal yang perlu ditentukan , yaitu berapa besar penghasilan (pengukuran) dan kapan penghasilan dapat dianggap diperoleh dalam suatu tahun(pengakuan).

Pada umumnya diakui cara yang terbaik untuk mengukur panghasilan dengan menggunakan nilai tukar (exchange value) dari barang dan jasa. Nilai tukar berupa kas atau yang setara dengan kas (cash equivalent) yang diterima dari transaksi penghasilan. Penghasilan diakui (recognized) pada waktu terjadi penjualan walaupun didapat (earned) secara bertahap selama proses perolehan penghasilan. Dengan demikian, pengakuan penghasilan terjadi pada saat realisasi penjualan dan pada saat itu pennghasilan sudah didapat. Penjualan  dianggap direalisasi apabila terjadi penyerahan barang dengan berpindahnya hak pemilikan atas barang. Mengenai kapan pengakuan penghasilan dilakukan, terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu :

  1. Substansi ekonomis dari transaksi mendahulukan bentuk formal transaksi
  2. Kolektibilitas piutang dari penjualan
  3. Resiko dan manfaat kepemilikan ditransfer kepada pembeli.

Sehubungan dengan pengakuan penghasilan dalam praktek terdapat dua kebiasaan sebagai berikut :

(1)   Prinsip umum

Secara umum penghasilan diakui pada saat realisasi transaksi, yaitu :

  1. Penghasilan dari transaksi penjualan produk diakui pada tanggal penjualan (tanggal penyerahan produk kepada pembeli)
  2. Penghasilan dari pemberian jasa diakui pada saat jasa dilakukan dan dibuatka fakturnya
  3. Imbalan atas penggunaan aktiva atau sumber ekonomis perusahaan, seperti bunga, sewa dan royalty, diiakui sejalan dengan berlalunya waktu (accrual) atau pada saat penggunaan aktiva
  4. Pennghasilan dari penjualan aktiva selain barang dagangan diakui pada tanggal penjualan.

(2)   Pengecualian terhadap prinsip umum

Dalam keadaan tertentu, pengakuan penghasilan dapat menyimpang dari prinsip umum seperti berikut ini

  1. Penghasilan diakui pada saat selesainya proses produksi. Pendekatan ini diterapkan terhadap produk yang harga dan pemasarannya terjamin, misalnya logam mulia dan produk pertanian.
  2. Penghasilan diakui secara proporsional selama tahap produksi. Pendekatan ini umumnya dilakukan terhadap proyek konstruksi dan pemberian jasa jangka panjang, dengan mendasarkan kepada persentase penyelesaian pekerjaan.
  3. Penghasilan diakui pada saat pembayaran diterima. Pendekatan ini umumnya dipakai dalam perusahaan jasa dengan kolektibilitas piutang atas penyerahan jasa kurang pasti dan kemungkinan terdapat pembatalan transaksi dalam frekuensi yang cukup tinggi.
  4. Penghasilan dari penjualan konsinyasi. Untuk barang yang dijual melalui konsinyasi, penghasilan baru diakui setelah consignee (penitip) melakukan penjualan dan melaporkan hasil penjualan itu.